Maulid bukan hanya tentang mengenang seorang tokoh, tetapi tentang mempertanyakan cara kita memandang manusia, ilmu, dan kehidupan.

Setiap tahun, kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di sekolah, masjid, pesantren, maupun berbagai tempat lainnya, kita membaca shalawat, mendengarkan kisah perjalanan hidup Nabi, dan kembali mengingat akhlaknya.
Semua itu tentu baik.
Tetapi setelah acara selesai, setelah panggung dibongkar dan pengeras suara dimatikan, ada satu pertanyaan yang mungkin lebih penting untuk kita bicarakan:
Apa yang sebenarnya berubah dalam diri kita?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah persoalannya. Kita begitu terbiasa memperingati Nabi sebagai sebuah ritual tahunan, sampai terkadang lupa bahwa kehidupan Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan kisah tentang perubahan.
Nabi tidak datang ke masyarakat yang sedang baik-baik saja. Beliau hadir di tengah masyarakat yang memiliki persoalan sosial, ekonomi, budaya, dan moral. Ada ketimpangan, fanatisme kesukuan, penindasan terhadap kelompok lemah, serta berbagai kebiasaan yang dianggap wajar hanya karena telah berlangsung lama.
Di sinilah saya kira Maulid seharusnya menjadi lebih dari sekadar perayaan.
Maulid seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya: apa yang perlu kita ubah dari cara kita berpikir hari ini?
Jahiliyah Tidak Selalu Berbentuk Berhala
Ketika mendengar istilah jahiliyah, kita mungkin langsung membayangkan masyarakat Arab sebelum Islam. Kita membayangkan penyembahan berhala, fanatisme kesukuan, atau berbagai praktik sosial yang tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan.
Tetapi zaman berubah.
Kita tidak hidup di Makkah pada abad ketujuh. Kita hidup di zaman internet, kecerdasan buatan, media sosial, dan informasi yang bergerak hampir tanpa batas.
Karena itu, bentuk persoalan manusia juga berubah.
Jahiliyah hari ini mungkin tidak selalu berbentuk patung yang disembah.
Ia bisa muncul dalam bentuk lain.
Ia bisa berupa kebiasaan mempermalukan teman karena dianggap berbeda. Bisa berupa budaya mengejek orang lain demi mendapatkan tawa. Bisa berupa fanatisme terhadap kelompok sendiri sampai menganggap semua yang berbeda pasti salah. Bisa berupa menyebarkan informasi yang belum jelas hanya karena judulnya menarik.
Bahkan, ia bisa muncul ketika kita menilai harga diri seseorang berdasarkan barang yang dipakainya, jumlah pengikutnya, penampilannya, atau seberapa populer dirinya di sekolah.
Teknologinya berubah. Manusia tetap memiliki kecenderungan yang sama.
Kita masih suka membuat kelompok. Kita masih suka menentukan siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Kita masih mudah menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang melakukannya.
Mungkin karena itu, salah satu hal penting yang dapat kita pelajari dari Nabi bukan hanya bagaimana cara beribadah, tetapi bagaimana cara memandang manusia.
Manusia Bukan Ditentukan Oleh Labelnya
Masyarakat selalu memiliki cara untuk membuat manusia menjadi sebuah label.
Dulu seseorang bisa dinilai dari suku, keturunan, atau kedudukannya.
Hari ini bentuknya mungkin berbeda.
Kita mengenal seseorang sebagai “anak pintar”, “anak nakal”, “anak populer”, “anak pendiam”, “anak kaya”, “anak biasa saja”, atau berbagai label lainnya.
Masalahnya, label sering kali membuat kita lupa bahwa manusia jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat.
Seorang siswa yang nilainya buruk belum tentu tidak memiliki masa depan.
Seseorang yang pendiam belum tentu tidak memiliki gagasan.
Seseorang yang berbeda pendapat belum tentu menjadi musuh.
Dan seseorang yang hari ini gagal belum tentu akan gagal selamanya.
Cara kita memperlakukan orang lain sebenarnya menunjukkan bagaimana kita memahami manusia.
Nabi Muhammad SAW membawa pesan yang sangat kuat tentang kemanusiaan. Kemuliaan seseorang tidak semestinya ditentukan oleh kekayaan, keturunan, atau status sosialnya.
Jika nilai itu kita bawa ke sekolah, pertanyaannya menjadi sederhana:
Apakah kita sudah memperlakukan teman sebagai manusia, atau hanya sebagai status sosial?
Revolusi Tidak Selalu Dimulai dari Jalanan
Kata “revolusi” sering membuat kita membayangkan perubahan besar: demonstrasi, pergantian kekuasaan, atau peristiwa sejarah yang mengubah sebuah negara.
Padahal, ada revolusi yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita.
Revolusi cara berpikir.
Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari perubahan terhadap cara manusia melihat sesuatu.
Berani mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa adalah salah satu bentuk keberanian berpikir.
“Memang dari dulu begini.”
“Semua orang juga melakukan.”
“Yang lain juga begitu.”
“Sudah menjadi kebiasaan.”
Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun, jika kita tidak berhati-hati, kalimat semacam itu dapat membuat sesuatu yang salah terlihat benar hanya karena sudah terlalu lama dilakukan.
Bayangkan jika seorang siswa berkata, “Semua orang menyontek.”
Apakah karena semua orang melakukannya, menyontek tiba-tiba menjadi benar?
Jika seseorang berkata, “Semua orang membicarakan dia di belakang.”
Apakah itu membuat perilaku tersebut menjadi baik?
Tidak.
Jumlah orang yang melakukan sesuatu tidak otomatis menentukan kebenarannya.
Di sinilah pendidikan seharusnya memainkan peran penting.
Sekolah tidak seharusnya hanya mengajarkan kita untuk mengetahui jawaban, tetapi juga mengajarkan kita untuk bertanya: mengapa jawaban itu benar?
Untuk Apa Kita Belajar?
Sebagai siswa, kita hampir setiap hari berhadapan dengan buku, tugas, ujian, nilai, dan berbagai target akademik.
Kita belajar sejarah, matematika, bahasa, sains, agama, dan berbagai mata pelajaran lainnya.
Tetapi pernahkah kita bertanya:
Untuk apa sebenarnya kita belajar?
Untuk mendapatkan nilai?
Untuk masuk perguruan tinggi?
Untuk mendapatkan pekerjaan?
Semua itu tentu penting.
Namun pendidikan seharusnya tidak berhenti di sana.
Ilmu semestinya membuat manusia menjadi lebih sadar. Semakin banyak kita belajar, semakin kita menyadari bahwa dunia ternyata jauh lebih luas daripada apa yang kita ketahui.
Orang yang berilmu bukanlah orang yang selalu merasa paling benar.
Justru semakin seseorang memahami ilmu, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.
Ilmu juga seharusnya membuat kita lebih sulit ditipu.
Ketika sebuah berita viral muncul di media sosial, kita tidak langsung membagikannya. Kita memeriksa sumbernya. Kita mempertanyakan informasinya. Kita mencari konteksnya.
Ketika seseorang memiliki pendapat berbeda, kita tidak buru-buru menyebutnya bodoh.
Kita mendengarkan.
Kita berpikir.
Kemudian kita boleh tidak setuju.
Tetapi ketidaksetujuan tidak harus berubah menjadi kebencian.
Kalau setelah bertahun-tahun bersekolah kita hanya menjadi semakin pandai mengerjakan soal, tetapi tidak semakin mampu membedakan informasi yang benar dan salah, mungkin ada sesuatu yang perlu kita pikirkan kembali tentang pendidikan.
Menjadi Anak Muda di Zaman yang Berisik
Kita hidup di zaman yang sangat ramai.
Setiap hari ada jutaan informasi yang masuk melalui layar ponsel. Semua orang bisa berbicara. Semua orang bisa membuat konten. Semua orang bisa menjadi komentator.
Masalahnya, kemampuan berbicara berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan berpikir.
Kita bisa membuat komentar dalam hitungan detik, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami sebuah persoalan.
Kita bisa membagikan sebuah video hanya dengan satu sentuhan, tetapi tidak selalu mau memeriksa apakah video tersebut benar atau tidak.
Kita bisa marah kepada seseorang yang belum pernah kita temui.
Kita bisa membenci kelompok yang bahkan tidak pernah kita kenal secara langsung.
Dalam situasi seperti ini, menjadi anak muda yang kritis bukan berarti harus selalu berbeda dari orang lain.
Kritis berarti mampu berhenti sejenak dan bertanya:
Benarkah demikian?
Dari mana informasi ini berasal?
Apa buktinya?
Apakah saya setuju karena memang masuk akal, atau karena semua orang di sekitar saya juga setuju?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu mungkin terlihat kecil. Tetapi masyarakat yang sehat membutuhkan manusia yang mau bertanya.
Maulid dan Tugas Generasi Kita
Pada akhirnya, memperingati Maulid Nabi bukan berarti kita harus mengulang sejarah tanpa mengambil pelajaran darinya.
Sejarah hanya akan menjadi masa lalu jika kita tidak mampu menghubungkannya dengan kehidupan hari ini.
Nabi Muhammad SAW hidup pada zamannya. Kita hidup pada zaman kita.
Persoalannya berbeda, teknologi berbeda, lingkungan sosial berbeda. Namun persoalan mendasar manusia masih banyak yang sama: kesombongan, ketidakadilan, kebencian, fanatisme, keserakahan, dan keengganan untuk mengakui bahwa dirinya bisa saja salah.
Karena itu, mungkin bentuk kecintaan kita kepada Nabi hari ini tidak cukup hanya dengan memperbanyak cerita tentang beliau.
Kita juga perlu membawa nilai-nilai yang beliau ajarkan ke ruang kehidupan kita sendiri.
Ke ruang kelas.
Ke organisasi siswa.
Ke media sosial.
Ke pertemanan.
Ke cara kita memperlakukan orang yang berbeda.
Ke cara kita menggunakan ilmu.
Dan bahkan ke cara kita memperlakukan seseorang yang tidak bisa memberikan keuntungan apa pun kepada kita.
Sebab pada akhirnya, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia bisa dimulai dari seorang siswa yang memutuskan untuk tidak ikut membully temannya.
Dari seseorang yang memilih tidak menyebarkan berita yang belum jelas.
Dari seseorang yang berani mengatakan, “Saya tidak tahu.”
Dari seseorang yang mau mendengarkan pendapat berbeda.
Dari seseorang yang menggunakan kecerdasannya bukan untuk merendahkan orang lain, tetapi untuk membantu.
Mungkin kita belum mampu mengubah dunia.
Tetapi kita selalu bisa mulai mengubah cara kita melihat dunia.
Dan mungkin di situlah salah satu makna penting Maulid Nabi bagi generasi kita.
Mengenal Nabi adalah perkara pengetahuan. Mengagumi Nabi adalah perkara perasaan. Tetapi membawa nilai perjuangannya ke zaman kita adalah perkara keberanian.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Semoga kita tidak hanya menjadi generasi yang pandai mengenang masa lalu, tetapi juga generasi yang berani berpikir, berani bertanya, dan berani membuat masa depan menjadi lebih manusiawi.
Penulis Artikel : Muhammad Faishal Fadlie – Pimpinan Redaksi M4M
