Munir, Gus Dur, dan Indonesia yang Belum Selesai

Sumber Foto : gusdur.net

7 September mempertemukan dua nama dengan jalan perjuangan yang berbeda. Gus Dur lahir pada hari ini, sementara Munir kehilangan nyawanya pada tanggal yang sama. Keduanya meninggalkan satu pertanyaan penting: seperti apa Indonesia yang sebenarnya ingin kita bangun?

Ada tanggal-tanggal tertentu yang terasa seperti memiliki cara sendiri untuk mengingatkan kita pada sejarah.

7 September adalah salah satunya.

Pada 7 September 1940, di Jombang, lahir seorang anak bernama Abdurrahman Wahid, yang kelak lebih dikenal sebagai Gus Dur. Empat puluh empat tahun kemudian, pada 7 September 2004, Munir Said Thalib meninggal dunia dalam penerbangan menuju Amsterdam. Dua peristiwa yang berbeda, dua kehidupan yang berbeda, dan dua jalan perjuangan yang juga tidak sama.

Tetapi hari ini keduanya bertemu dalam ingatan kita.

Bukan karena Gus Dur dan Munir adalah tokoh yang sama. Bukan pula karena perjuangan mereka selalu berada dalam satu garis yang identik.

Melainkan karena keduanya mengajarkan sesuatu yang semakin penting untuk dipahami generasi muda: bahwa kemanusiaan membutuhkan keberanian.

Siapa Munir?

Bagi sebagian siswa hari ini, nama Munir mungkin hanya pernah muncul dalam buku sejarah, unggahan media sosial, atau pembahasan tentang kasus pelanggaran HAM.

Padahal, Munir pernah menjadi salah satu suara yang paling berani ketika negara dan masyarakat berhadapan dengan persoalan hak asasi manusia.

Ia mendampingi korban kekerasan, memperjuangkan orang-orang yang hilang, dan terlibat dalam kerja-kerja advokasi HAM. Munir juga dikenal sebagai salah satu pendiri KontraS dan kemudian memimpin Imparsial. Perjuangannya bersinggungan dengan berbagai kasus kekerasan dan pelanggaran HAM di Indonesia.

Munir bukan orang yang memilih jalan aman.

Ia berbicara tentang orang-orang yang sering kali tidak memiliki kekuatan untuk berbicara sendiri.

Dan pada 7 September 2004, perjalanan itu berhenti secara tragis. Munir meninggal dalam penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam setelah diracun. Hingga kini, kasus pembunuhannya masih menjadi persoalan serius dalam perjalanan penegakan HAM di Indonesia. Komnas HAM bahkan membentuk Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat atas peristiwa pembunuhan Munir pada 2023.

Mungkin karena itu, nama Munir tidak seharusnya hanya dikenang sebagai nama seorang aktivis yang telah meninggal.

Munir seharusnya dikenang sebagai sebuah pertanyaan.

Apa yang terjadi ketika seseorang berani membela kebenaran yang tidak selalu disukai oleh kekuasaan?

Lalu, Siapa Gus Dur?

Kalau Munir banyak dikenal melalui perjuangan pembelaan HAM dan korban kekerasan, Gus Dur menempuh jalan yang berbeda.

Ia seorang kiai, intelektual, pemimpin Nahdlatul Ulama, dan Presiden keempat Republik Indonesia.

Tetapi Gus Dur juga dikenal karena keberaniannya memperjuangkan kehidupan bersama di tengah masyarakat yang sangat beragam.

Ia sering berbicara tentang demokrasi, toleransi, kebebasan, dan pentingnya menghormati kelompok yang berbeda.

Ketika menjadi presiden, salah satu kebijakan pentingnya adalah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Kebijakan tersebut membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat Tionghoa untuk menjalankan agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya tanpa pembatasan khusus seperti sebelumnya.

Bagi sebagian orang, sikap Gus Dur mungkin terasa kontroversial.

Tetapi mungkin justru di situlah letak pelajarannya.

Membela kebebasan tidak selalu berarti membela orang yang kita setujui.

Kadang kita justru diuji ketika harus memberikan hak kepada orang yang berbeda dengan kita.

Berbeda agama.

Berbeda suku.

Berbeda pilihan politik.

Berbeda cara berpikir.

Bahkan berbeda pendapat dengan kita.

Dan di situlah toleransi menjadi lebih dari sekadar slogan.

Dua Jalan yang Berbeda

Munir dan Gus Dur bukan dua tokoh yang harus dipaksa menjadi sama.

Munir adalah aktivis dan pembela HAM yang banyak bekerja melalui advokasi, pendampingan korban, dan perjuangan terhadap kekerasan serta ketidakadilan.

Gus Dur bergerak melalui dunia pesantren, pemikiran, organisasi keagamaan, kebudayaan, politik, dan pemerintahan.

Jalannya berbeda.

Bahasanya berbeda.

Medannya berbeda.

Tetapi ada sesuatu yang mempertemukan keduanya:

keberanian untuk berdiri bersama manusia.

Dan mungkin ini yang sering hilang ketika kita belajar sejarah.

Kita terlalu sibuk menghafalkan tanggal, jabatan, tempat lahir, dan nama lembaga.

Kita lupa bertanya:

Mengapa mereka memilih jalan itu?

Indonesia yang Belum Selesai

Indonesia hari ini tentu berbeda dengan Indonesia ketika Munir aktif memperjuangkan HAM atau ketika Gus Dur menjadi presiden.

Kita hidup dalam demokrasi yang berkembang. Teknologi membuat informasi jauh lebih mudah diperoleh. Anak muda memiliki ruang yang jauh lebih besar untuk menyampaikan pendapat.

Tetapi apakah semua persoalan sudah selesai?

Belum.

Kita masih melihat perundungan di sekolah.

Kita masih menemukan diskriminasi.

Kita masih mudah membenci seseorang hanya karena berbeda pilihan.

Kita masih melihat orang dihukum oleh opini publik sebelum fakta benar-benar diperiksa.

Di media sosial, seseorang bisa kehilangan harga dirinya hanya karena satu potongan video.

Sebuah kelompok bisa dibenci hanya karena informasi yang belum tentu benar.

Dan terkadang, orang yang berbeda pendapat tidak lagi dianggap sebagai teman diskusi, tetapi sebagai musuh.

Di sinilah warisan Gus Dur dan Munir menjadi relevan.

Bukan untuk membuat kita hidup di masa lalu.

Justru sebaliknya.

Untuk membantu kita menghadapi masa depan.

Hak Asasi Manusia Bukan Hanya Urusan Aktivis

Ketika mendengar istilah HAM, mungkin sebagian siswa langsung berpikir tentang demonstrasi, pengadilan, politik, atau kasus besar yang diberitakan media.

Padahal HAM juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika kita tidak ikut mengejek teman yang berbeda.

Ketika kita menghargai pendapat orang lain.

Ketika kita tidak menyebarkan foto atau percakapan pribadi seseorang tanpa izin.

Ketika kita tidak melakukan perundungan.

Ketika kita berani mengatakan bahwa sesuatu tidak adil.

Ketika kita tidak menganggap seseorang lebih rendah hanya karena kondisi ekonomi, agama, suku, atau latar belakang keluarganya.

Itu semua berhubungan dengan bagaimana kita memahami manusia.

Karena pada dasarnya, HAM bukan hanya tentang bagaimana negara memperlakukan rakyatnya.

HAM juga berbicara tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.

Generasi yang Berani Berbeda

Ada satu hal yang mungkin bisa kita pelajari dari kedua tokoh ini: jangan terlalu takut untuk berbeda.

Bukan berarti setiap perbedaan otomatis benar.

Bukan berarti kita harus selalu melawan.

Tetapi menjadi pelajar seharusnya tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk berpikir sendiri.

Jika semua orang mengatakan sesuatu benar, kita tetap boleh bertanya.

Jika semua orang mengatakan seseorang salah, kita tetap boleh memeriksa faktanya.

Jika sebuah kebiasaan dianggap normal, kita tetap boleh bertanya apakah kebiasaan itu adil.

Dan jika kita melihat seseorang diperlakukan tidak manusiawi, kita tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk peduli.

Mungkin kita memang belum bisa menjadi Munir.

Kita juga tidak harus menjadi Gus Dur.

Tetapi kita bisa belajar dari keberanian mereka.

Berani membaca.

Berani bertanya.

Berani berbeda.

Berani mendengarkan.

Dan yang paling penting, berani mempertahankan kemanusiaan ketika lingkungan di sekitar kita justru mendorong kita untuk bersikap sebaliknya.

Sejarah yang Belum Selesai

Pada akhirnya, Munir dan Gus Dur bukan sekadar dua nama yang harus kita kenang setiap 7 September.

Mereka adalah bagian dari perjalanan Indonesia yang belum selesai.

Indonesia masih terus mencari bentuk terbaiknya.

Demokrasi masih terus belajar.

Penegakan HAM masih memiliki pekerjaan rumah.

Toleransi masih harus diperjuangkan.

Dan generasi baru masih harus belajar bagaimana menjadi warga negara yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki keberanian moral.

Karena sejarah bukan sesuatu yang hanya terjadi kepada orang-orang di masa lalu.

Sejarah juga sedang kita buat hari ini.

Ketika kita memilih diam atau berbicara.

Ketika kita memilih ikut mengejek atau membela.

Ketika kita memilih menyebarkan kebencian atau memeriksa kebenaran.

Ketika kita memilih menutup diri dari perbedaan atau mencoba memahami orang lain.

Pilihan-pilihan kecil itu mungkin tidak masuk buku sejarah.

Tetapi dari pilihan-pilihan kecil semacam itulah karakter sebuah masyarakat terbentuk.

Maka 7 September ini, kita tidak hanya perlu mengingat bagaimana Munir pergi atau kapan Gus Dur lahir.

Kita perlu mengingat mengapa mereka pernah berdiri.

Munir mengingatkan kita bahwa membela hak manusia bisa membutuhkan keberanian yang besar.

Gus Dur mengingatkan kita bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menghilangkan.

Dan Indonesia hari ini mengingatkan kita bahwa perjuangan itu belum selesai.

Mungkin generasi kita tidak akan menghadapi persoalan yang sama persis dengan mereka.

Tetapi kita akan selalu menghadapi pertanyaan yang sama:

Ketika melihat ketidakadilan, kita akan memilih menjadi penonton atau menjadi manusia yang peduli?

Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang memegang jabatan.

Bangsa juga dibangun oleh orang-orang biasa yang memilih untuk tidak membiarkan manusia lain diperlakukan tidak manusiawi.

Munir telah pergi. Gus Dur telah pergi. Tetapi pertanyaan yang mereka tinggalkan masih ada di hadapan kita.

Dan mungkin, sekarang giliran generasi kita untuk menjawabnya.

M. Faishal Fadlie – Pimpinan Redaksi M4M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with